Pemboran Eksplorasi Batubara: Perbedaan Coring dan Open Hole
Perbedaan pemboran coring dan open hole di eksplorasi batubara, fungsi masing-masing, core recovery, logging geofisika, dan tips agar data bor bisa dipercaya.
Titik bor adalah mata tim geologi untuk melihat apa yang ada di bawah tanah. Hampir semua angka penting tambang, mulai dari ketebalan seam, kualitas, sampai cadangan, berasal dari data pemboran. Di eksplorasi batubara, ada dua cara pemboran yang paling sering dipakai: open hole dan coring.
Pemboran open hole
Batuan dihancurkan oleh mata bor dan serpihannya (cutting) dibawa ke permukaan oleh air atau lumpur bor. Geolog mencatat jenis batuan dari cutting yang keluar pada setiap kedalaman.
Kelebihan:
- Cepat dan relatif murah.
- Cocok untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan lapisan secara luas.
Kekurangan:
- Tidak menghasilkan contoh batuan utuh.
- Batas lapisan dari cutting kurang tepat, karena serpihan bisa bercampur saat naik ke permukaan.
- Tidak bisa dipakai untuk analisa kualitas batubara yang akurat.
Pemboran coring
Mata bor berbentuk cincin memotong batuan dan menyisakan silinder batuan utuh di tengahnya, disebut inti bor (core). Core ditarik ke permukaan, diukur, difoto, dideskripsi, lalu batubaranya diambil sebagai sampel laboratorium.
Kelebihan:
- Batas lapisan terlihat jelas dan bisa diukur akurat.
- Sampel batubara utuh untuk analisa kualitas.
- Sampel batuan atap dan lantai bisa dipakai untuk uji geoteknik.
Kekurangan:
- Lebih lambat dan lebih mahal.
- Butuh pengawasan ketat agar core tidak hilang atau rusak.
Kombinasi yang umum dipakai
Dalam praktik, kedua metode digabung. Pemboran open hole dipakai di banyak titik untuk memetakan sebaran lapisan, sementara coring dilakukan di sebagian titik untuk mendapatkan data kualitas dan geoteknik. Kadang dalam satu lubang, bagian atas dibor open hole dan baru diubah menjadi coring ketika mendekati lapisan batubara target.
| Aspek | Open hole | Coring |
|---|---|---|
| Hasil | Cutting (serpihan) | Inti batuan utuh |
| Kecepatan | Cepat | Lebih lambat |
| Biaya per meter | Lebih rendah | Lebih tinggi |
| Data ketebalan | Perkiraan, diperkuat logging | Akurat |
| Data kualitas | Tidak andal | Andal |
| Data geoteknik | Tidak ada | Ada |
Core recovery: ukuran kualitas pemboran
Tidak semua batuan yang dibor berhasil terangkat sebagai core. Persentase yang berhasil diangkat disebut core recovery:
Core recovery = Panjang core yang didapat / Panjang yang dibor × 100%
Contoh: interval batubara dibor 3,00 meter, core yang terangkat 2,70 meter. Recovery-nya 90%.
Recovery yang rendah di lapisan batubara membuat sampel kualitas tidak mewakili, karena bagian yang hilang biasanya justru bagian yang lunak atau rapuh. Banyak perusahaan menetapkan batas minimum recovery batubara, dan titik yang tidak memenuhi akan dibor ulang di dekatnya.
Logging geofisika
Setelah pemboran selesai, alat sensor (probe) diturunkan ke dalam lubang bor untuk merekam sifat fisik batuan di sepanjang kedalaman. Yang paling umum di eksplorasi batubara:
- Gamma ray: batubara umumnya memancarkan radiasi alami rendah, sementara batu lempung lebih tinggi.
- Densitas: batubara jauh lebih ringan dari batuan di sekitarnya.
Gabungan keduanya membuat batas atas dan bawah seam terlihat jelas, sehingga ketebalan dari open hole bisa dikoreksi dengan akurat. Logging juga membantu mendeteksi core yang hilang pada pemboran coring.
Tips agar data bor bisa dipercaya
- Ukur koordinat dan elevasi collar (mulut lubang) dengan survei yang akurat.
- Jangan menunda deskripsi core. Batubara cepat retak dan berubah setelah terkena udara dan panas.
- Bungkus sampel dengan rapat dan beri label jelas sebelum dikirim ke laboratorium, agar kadar air tidak berubah dan sampel tidak tertukar.
- Simpan foto core untuk setiap kotak core.
- Cocokkan deskripsi dengan logging. Selisih kedalaman di antara keduanya harus ditelusuri dan dikoreksi.
Data yang rapi dari tahap ini menjadi dasar estimasi sumberdaya dan cadangan.