IBPR dan Hirarki Pengendalian Risiko di Tambang

Cara melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko (IBPR), matriks risiko kemungkinan dan keparahan, serta hirarki pengendalian dari eliminasi sampai APD, dengan contoh di tambang.

Redaksi TambangPedia··3 menit baca

Setiap pekerjaan di tambang mengandung bahaya. Tujuan K3 bukan menghilangkan semua bahaya, karena itu sering mustahil, melainkan memastikan risikonya terkendali sampai tingkat yang dapat diterima. Alat untuk melakukannya disebut IBPR: Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko. Di beberapa perusahaan dikenal juga dengan istilah HIRA atau HIRADC.

Bahaya dan risiko itu berbeda

  • Bahaya (hazard) adalah sumber yang berpotensi menimbulkan cedera atau kerugian. Contoh: lereng yang curam, truk yang bergerak, bahan peledak.
  • Risiko (risk) adalah gabungan antara kemungkinan bahaya itu menimbulkan kejadian dan seberapa parah akibatnya.

Lereng yang curam adalah bahaya. Risikonya bergantung pada seberapa sering orang bekerja di bawahnya dan seberapa besar kemungkinan longsor.

Langkah melakukan IBPR

1. Uraikan pekerjaan menjadi tahapan

Contoh pekerjaan: penggantian ban dump truck di lapangan.

  1. Mengamankan unit dan area
  2. Melepas mur roda
  3. Mengangkat dan melepas ban
  4. Memasang ban baru
  5. Mengencangkan dan memeriksa

2. Identifikasi bahaya di setiap tahapan

Pada tahap mengangkat ban: ban sangat berat bisa jatuh, posisi tangan terjepit, alat pengangkat gagal, unit bergerak.

3. Nilai risikonya

Penilaian biasanya memakai matriks kemungkinan dan keparahan:

Tingkat risiko = Kemungkinan × Keparahan
Kemungkinan \ Keparahan 1 Ringan 2 Sedang 3 Berat 4 Fatal
4 Hampir pasti 4 Sedang 8 Tinggi 12 Ekstrem 16 Ekstrem
3 Mungkin 3 Rendah 6 Sedang 9 Tinggi 12 Ekstrem
2 Jarang 2 Rendah 4 Sedang 6 Sedang 8 Tinggi
1 Sangat jarang 1 Rendah 2 Rendah 3 Rendah 4 Sedang

Skala dan batas kategori setiap perusahaan bisa berbeda. Yang penting konsisten dipakai di seluruh organisasi.

4. Tentukan pengendalian

Untuk risiko yang belum dapat diterima, tentukan pengendalian menggunakan hirarki di bawah ini, lalu nilai kembali risikonya setelah pengendalian (risiko sisa).

5. Tinjau secara berkala

IBPR harus diperbarui ketika ada perubahan: alat baru, metode baru, area baru, atau setelah terjadi insiden.

Hirarki pengendalian risiko

Urutannya dari yang paling efektif:

Tingkat Prinsip Contoh di tambang
1. Eliminasi Hilangkan bahayanya Mendesain ulang rute agar truk tidak perlu melewati area pejalan kaki
2. Substitusi Ganti dengan yang lebih aman Ripping dengan dozer sebagai pengganti peledakan di dekat permukiman
3. Rekayasa teknik Pisahkan orang dari bahaya Tanggul pengaman, pagar, sistem deteksi tabrakan, pelindung mesin
4. Administratif Ubah cara orang bekerja Prosedur kerja, izin kerja, pelatihan, rambu, pengaturan shift
5. APD Lindungi tubuh pekerja Helm, kacamata, harness, pelindung telinga

Semakin ke bawah, efektivitasnya semakin bergantung pada perilaku manusia, sehingga lebih mudah gagal. Karena itu APD tidak boleh menjadi satu-satunya pengendalian untuk risiko tinggi. Daftar APD dijelaskan di artikel APD wajib di tambang.

IBPR, JSA, dan pekerjaan sehari-hari

IBPR biasanya disusun untuk proses dan area kerja secara menyeluruh. Untuk pekerjaan spesifik yang akan dilakukan pada hari itu, dipakai analisa keselamatan kerja atau JSA (Job Safety Analysis) yang lebih rinci per langkah, dan dibahas bersama tim sebelum mulai bekerja.

Satu prinsip sederhana yang bisa dipegang siapa saja di lapangan: sebelum mulai, tanyakan tiga hal. Apa yang bisa salah? Seberapa parah akibatnya? Apa yang sudah disiapkan untuk mencegahnya? Kalau jawabannya belum jelas, pekerjaan belum siap dimulai.

Pelajari juga dasar K3 pertambangan.

#IBPR#manajemen risiko#hirarki pengendalian#JSA#K3